Monday, 2 November 2015

TINJAUAN PUSTAKA TENTANG PERSONAL HYGIENE, APD, DERMATITIS KONTAK



BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Personal Hygiene
2.1.1. Definisi
          Personal hygiene berasal dari bahasa Yunani, yaitu personal, yang artinya perorangan dan hygiene, yang berarti sehat. Personal hygiene adalah perawatan diri yang dilakukan orang, seperti mandi, eliminasi, hygiene tubuh secara umum dan berhias (Kozier, 2010).
          Menurut Tarwoto (2010), personal hygiene adalah suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis. Manfaat yang didapat dengan merawat kebersihan diri adalah memperbaiki kebersihan diri, mencegah penyakit, meningkatkan kepercayaan diri dan menciptakan keindahan.
Personal higiene menjadi penting karena personal hygiene yang baik akan meminimalkan pintu masuk (port de entry) mikroorganisme yang ada dimana-mana dan pada akhirnya mencegah seseorang terkena penyakit. Personal hygiene merupakan perawatan diri dimana seseorang merawat fungsi-fungsi tertentu, seperti mandi, toileting dan kebersihan tubuh secara umum. Kebersihan diri diperlukan untuk kenyamanan, keamanan dan kesehatan seseorang. Kebersihan diri merupakan langkah awal mewujudkan kesehatan diri. Dengan tubuh yang bersih meminimalkan risiko seseorang terhadap kemungkinan terjangkitnya suatu penyakit terutama penyakit yang berhubungan dengan kebersihan diri yang tidak baik. Personal hygiene yang tidak baik akan mempermudah tubuh terserang berbagai penyakit seperti penyakit kulit, penyakit infeksi, penyakit mulut dan penyakit saluran cerna (Saryono dan Widianti dalam Listautin, 2012).
2.1.2. Macam-macam Personal Hygiene
Pemeliharaan personal hygiene berarti tindakan memelihara kebersihan dan kesehatan diri seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikisnya. Seseorang dikatakan memiliki personal hygiene yang baik, apabila orang tersebut dapat menjaga kebersihan tubuhnya yang meliputi kebersihan kulit, gigi dan mulut, rambut, mata, hidung, dan telinga, kaki dan kuku, genitalia, serta kebersihan dan kerapihan pakaiannya.
Menurut Potter dan Perry (2010), macam-macam personal hygiene adalah:
a)             Kebersihan kulit
Kulit memiliki fungsi perlindungan, sekresi, ekskresi, regulasi suhu, dan sensasi. Kulit memilki tiga lapisan utama yaitu epidermis, dermis dan subkutan. Epidermis (lapisan luar) tersusun atas beberapa lapisan sel tipis dengan berbagai tingkat maturasi. Lapisan ini melindungi kulit dari kehilangan air dan cedera, serta mencegah masuknya mikroorganisme. Lapisan terdalam epidermis menghasilkan sel baru untuk menggantikan sel mati yang dilepaskan oleh lapisan luar. Bakteri umumnya berada di epidermis luar. Ini adalah flora normal yang tidak menyebabkan penyakit dan menghambat bertambahnya mikroorganisme patologis.
Dermis merupakan lapisan kulit yang lebih tebal, serta mengandung serat kolagen dan serabut elastik untuk menyokong epidermis. Saraf, pembuluh darah, kelenjar keringat, dan kelenjar sebasea, serta folikel rambut berjalan melalui lapisan dermis. Kelenjar sebasea menyekresikan sebum, suatu cairan berminyak kedalam folikel rambut.
Lapisan Subkutan mengandung pembuluh darah, saraf, limfe, dan jaringan ikat longgar yang terisi sel lemak. Jaringan lemak merupakan penyimpan panas bagi tubuh. Jaringan subkutan juga menyokong lapisan diatasnya untuk menahan stress dan tekanan. Jaringan subkutan sangat sedikit terdapat pada mukosa mulut. Kulit menggambarkan perubahan fisik dengan perubahan warna, ketebalan, tekstur, turgor, suhu dan hidrasi Sepanjang kulit masih utuh dan sehat, fungsi fisiologisnya akan tetap optimal.
Menurut Kozier (2010), Kulit normal orang sehat mempunyai mikroorganisme yang tinggal sementara atau menetap di kulit dan umumnya tidak berbahaya. Kulit yang tidak terawat kebersihannya, akan berisiko besar terhadap terjadinya infeksi kulit yang disebabkan oleh bakteri, jamur, maupun subtansi/partikel bahan iritan. Saat ini banyak penyakit kulit (Dermatitis kontak) yang terjadi dikalangan pemulung. Hal ini dikarenakan pemulung berkontak langsung dengan sampah-sampah yang banyak mengandung mikroorganisme/agent penyakit. Kurangnya perawatan diri, terutama kebersihan kulit dan tidak adanya penggunaan APD yang sesuai, menyebabkan risiko terjadinya infeksi kulit akan semakin besar.




b)             Kebersihan kaki, tangan, dan kuku
Kaki, tangan, dan kuku membutuhkan perhatian khusus untuk mencegah infeksi. Cedera di kulit menimbulkan nyeri serta sangat mengganggu kemampuan individu untuk berjalan dan menyanggah beban. Sedangkan tangan lebih bersifat manipulatif daripada suportif.
Ketangkasan tangan sangat banyak karena besarnya rentang gerak antara ibu jari dan jari lainnya. Kondisi yang menggangu ini akan mengganggu kemampuan perawatan seseorang. Tangan adalah bagian tubuh manusia yang paling sering berhubungan dengan mulut dan hidung secara langsung. Sehingga tangan merupakan salah satu penghantar utama masuknya kuman penyebab penyakit ke dalam tubuh manusia. Apabila tangan manusia menyentuh tinja atau feses akan terkontaminasi lebih dari 10 juta virus dan 1 juta bakteri yang dapat menimbulkan penyakit. Virus dan bakteri tidak dapat dilihat secara langsung sehingga sering diabaikan dan mudah masuk kedalam tubuh manusia (Zein dalam Listautin, 2012).
Menurut Zein dalam Lestautin (2012), Cuci tangan memakai sabun, bagi sebagian besar masyarakat sudah menjadi kegiatan rutin sehari-hari. Tapi bagi sebagian masyarakat lainnya cuci tangan pakai sabun belum menjadi kegiatan rutin, terutama bagi anak-anak. Cuci tangan pakai sabun dapat menghilangkan sejumlah besar virus dan bakteri yang menjadi penyebab berbagai penyakit terutama penyakit yang menyerang saluran cerna seperti diare dan penyakit infeksi saluran pernafasan akut. Sedangkan permasalahan kaki dan kuku, disebabkan karena salah pemotongan kuku, menggunakan alas kaki yang terlalu sempit dan terpaparnya zat kimia yang tajam.
Kuku merupakan jaringan epitel yang tumbuh dari akar bantalan kuku, berlokasi di dalam kulit pada cekungan kuku, tersembunyi oleh lipatan kulit yang disebut kultikula. Bagian kulit yang terlihat disebut badan kuku. Terdapat area putih seperti bulan sabit yang disebut lunula. Di bawah kulit terdapat lapisan epithelium (nail bed). Kuku yang normal tampak transparan, mulus, dan cembung dengan bantalan kuku berwarna merah muda dan ujung kuku berwarna putih transparan. Penyakit dapat mengubah bentuk, ketebalan, dan lengkungan kuku (Potter & Perry, 2010).
Kuku selanjutnya tumbuh selama hidup dan mengalami sedikit perubahan pada lansia. Pada pertumbuhannya, kuku menjadi lebih kuat, lebih rapuh, dan pada beberapa kasus menebal. Kuku pada lansia tumbuh lebih lambat dibandigkan orang yang masih muda dan mungkin lebih kaku dan berlekuk-lekuk (Kozier, 2010).
c)             Kebersihan rongga mulut
Rongga mulut dilapisi membran mukosa yang bersambung dengan kulit. Rongga mulut terdiri atas bibir, pipi di bagian samping rongga mulut, lidah dan ototnya, serta palatum lunak dan keras. Dasar mulut dan permukaan bawah lidah kaya akan pembuluh darah. Ulkus atau trauma akan menimbulkan perdarahan yang cukup banyak. Terdapat 3 pasang kelenjar ludah yang menyekresikan sekitar 1 liter saliva tiap harinya. Kelenjar bukal pada mukosa pipi dan mulut mempertahankan hygiene dan kenyamanan jaringan mulut. Efek obat, pajanan radiasi, dan pernafasan mulut akan mengganggu sekresi saliva.
Gigi merupakan organ pengunyah atau mastika. Gigi dirancang utnuk memotong, merobek, dan mencerna makanan agar dapat bercampur dengan saliva dan ditelan. Gigi normal terdiri atas mahkota, leher, dan akar. Membran periodontal terletak tepat di bawah batas gusi, mengelilingi satu gigi dan menahannya di tempat. Gigi sehat tampak putih, mulus, berkilau, dan tersusun rapi.
Kesulitan mengunyah akan timbul jika jaringan gusi mengalami peradangan atau infeksi atau jika gigi tanggal/ kendur. Hygiene mulut teratur dibutuhkan untuk mempertahankan integritas permukaan gigi dan mencegah gingivitis, atau inflamasi gusi.
d)            Kebersihan mata, hidung dan telinga
Secara normal tidak ada perawatan khusus yang diperlukan untuk membersihkan mata, hidung, dan telinga selama individu mandi. Secara normal tidak ada perawatan khusus yang diperlukan untuk mata karena secara terus-menerus dibersihkan oleh air mata, kelopak mata dan bulu mata mencegah masuknya partikel asing kedalam mata. Normalnya, telinga tidak terlalu memerlukan pembersihan. Namun, telinga yang serumen terlalu banyak perlu dibersihkan baik mandiri atau dibantu oleh keluarga. Hygiene telinga mempunyai implikasi untuk ketajaman pendengaran. Bila benda asing berkumpul pada kanal telinga luar, maka akan mengganggu konduksi suara. Hidung berfungsi sebagai indera penciuman, memantau temperatur dan kelembapan udara yang dihirup, serta mencegah masuknya partikel asing ke dalam system pernapasan. Membersihkan sekresi hidung biasa dilakukan dengan menghembuskannya ke kertas tisu yang lembut. Ketika sekresi lubang hidung eksternal mongering, harus dibersihkan dengan lidi kapas yang dilembabkan dengan salin atau air.
e)             Perawatan rambut
Rambut merupakan bagian dari tubuh yang memiliki fungsi sebagai proteksi serta pengatur suhu, melalui rambut perubahan status kesehatan diri dapat diidentifikasi. Penampilan dan kesejahteraan seseorang seringkali tergantung dari cara penampilan dan perasaan mengenai rambutnya. Menyikat, menyisir dan bershampo adalah cara-cara dasar higienis perawatan rambut. Pertumbuhan, distribusi, pola rambut dapat menjadi indikator status kesehatan umum seseorang. Rambut dipengaruhi perubahan hormonal, stress emosional, dan fisik, penuaan, infeksi dan penyakit tertentu.
f)              Perawatan genetalia
Perawatan genitalia merupakan bagian dari mandi lengkap. Seseorang yang paling butuh perawatan genitalia yang teliti adalah yang beresiko terbesar memperoleh infeksi. Seseorang yang tidak mampu melakukan perawatan diri dapat dibantu keluarga untuk melakukan personal hygiene.





2.1.3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Personal Hygiene
Menurut Potter dan Perry (2010), pilihan hygiene seseorang dipengaruhi oleh sejumlah faktor, antara lain :
a)             Praktik sosial
Kelompok sosial mempengaruhi pilihan hygiene, termasuk produk dan frekuensi perawatan pribadi. Selama masa kanak-kanak, kebiasaan keluarga mempengaruhi hygiene, misalnya frekuensi mandi, waktu mandi, dan jenis hygiene mulut. Pada masa remaja, hygiene pribadi dipengaruhi oleh kelompok teman. Remaja wanita misalnya, menjadi tertarik pada penampilan pribadi dan mulai memakai riasan wajah. Pada masa dewasa, teman dan kelompok kerja membentuk harapan tentang penampilan pribadi. Beberapa praktik hygiene pada lansia berubah karena kondisi hidupnya dan sumber yang tersedia
b)             Pilihan pribadi
Tiap individu memiliki keinginan sendiri dalam menentukan waktu bercukur, mandi, dan mengurus rambut. Pemilihan produk didasarkan pada selera pribadi, kebutuhan, dan dana. Pengetahuan tentang pilihan individu akan membantu perawatan yang terindividualisasi. Selain itu, membantu individu untuk membangun praktik hygiene baru jika ada penyakit.
c)             Citra tubuh
Citra tubuh mempengaruhi cara seseorang memelihara hygiene. Penampilan umum seseorang menggambarkan pentingnya hygiene  bagi dirinya. Citra tubuh adalah konsep subjek seseorang tentang tubuhnya, termasuk penampilan, struktur, atau fungsi fisik. Citra ini sering berubah, saat individu menderita penyakit, atau perubahan status fungsional, citra tubuh akan berubah dramatis.
d)            Status sosial ekonomi
Status ekonomi akan mempengaruhi jenis dan sejauh mana praktik hygiene dilakukan. Personal hygiene memerlukan alat dan bahan seperti sabun, pasta gigi, sikat gigi, shampo dan alat mandi yang semuanya memerlukan uang untuk menyediakannya. Jika seseorang mengalami masalah ekonomi, dirinya akan sulit berpartisipasi dalam aktivitas promosi kesehatan, seperti hygiene dasar.
e)             Kepercayaan dan motivasi kesehatan
Pengetahuan tentang hygiene  akan mempengaruhi praktik hygiene. Namun, hal ini saja tidak cukup, karena motivasi merupakan kunci penting dalam pelaksanaan hygiene. Kesulitan internal yang mempengaruhi akses praktik hygiene adalah ketiadaan motivasi karena kurangnya pengetahuan.
f)              Variabel budaya
Kepercayaan budaya dan nilai pribadi seseorang akan mempengaruhi perawatan hygiene . setiap budaya memiliki praktik hygiene  yang berbeda. Beberapa budaya tidak menganggap kesehatan sebagai hal yang penting. Ada pandangan masyarakat jika individu sakit tertentu maka tidak boleh dimandikan.
g)             Kondisi fisik
Seseorang dengan keterbatasan fisik biasanya tidak memiliki energy dan ketangkasan untuk melakukan hygiene. Pada keadaan sakit, tentu kemampuan untuk merawat diri berkurang dan perlu bantuan untuk melakukannya.
2.2. Alat Pelindung Diri (APD)
2.2.1. Definisi
Alat Pelindung Diri adalah seperangkat alat keselamatan yang digunakan oleh pekerja untuk melindungi seluruh atau sebagian tubuhnya dari kemungkinan adanya pemaparan potensi bahaya lingkungan kerja terhadap kecelakaan dan penyakit akibat kerja (Tarwaka, 2008).
Perlindungan keselamatan pekerja melalui upaya teknis pengamanan tempat, peralatan dan lingkungan kerja wajib diutamakan. Sebab keadaan bahaya masih belum dapat dikendalikan sepenuhnya, sehingga digunakan alat - alat pelindung diri. Alat pelindung haruslah nyaman dipakai, tidak mengggangu kerja dan memberikan perlindungan yang efektif (Suma’mur, 2009).
2.2.2. Pemilihan Alat Pelindung Diri (APD)
Setiap tempat kerja mempunyai potensi bahaya yang berbeda-beda sesuai dengan jenis, bahan dan proses produksi yang dilakukan. Dengan demikian, sebelum melakukan pemilihan alat pelindung diri mana yang tepat digunakan, diperlukan adanya suatu investarisasi potensi bahaya yang ada di tempat kerja masing-masing. Meskipun kebutuhan akan alat-alat pelindung diri telah tertanamkan, maka pemilihan tipe yang baik dan sesuai utnuk melakukan suatu pekerjaan harus dilakukan (Moeljosoedarmo, 2008).


Oleh karena itu, alat pelindung diri yang baik harus memiliki beberapa persyaratan, diantaranya adalah sebagai berikut (Moeljosoedarmo, 2008) :
a)             Alat pelindung diri harus dapat melindungi terhadap bahaya dimana tenaga kerja terpajan.
b)             Alat (pakaian) pelindung diri harus ringan dan efisien dalam memberi perlindungan.
c)             Sebagai alat pelengkap terhadap tubuh harus fleksibel namun efektif.
d)            Berat alat yang harus diterima oleh bagian tubuh, dapat ditahan dengan baik.
e)             Tenaga kerja yang memakai alat pelindung diri harus tidak terhalang gerakannya maupun tanggapan panca inderanya.
f)              Alat-alat pelindung diri harus tahan lama.
g)             Alat-alat pelindung diri harus menarik.
h)             Bagian-bagian penting yang harus sering diganti agar ada persediaannya.
i)               Alat-alat pelindung diri harus tidak memberikan efek samping (bahaya tambahan karena pemakaian) baik oleh karena bentuknya, konstruksi, bahan, atau mungkin penyalahgunaan. Kriteria Alat Pelindung Diri.
Sedangkan menurut Ridley (2008), alat pelindung diri yang efektik harus memenuhi beberapa kriteria dibawah ini:
a)             Sesuai dengan bahaya yang dihadapi.
b)             Terbuat dari material yang akan tahan terhadap bahaya tersebut.
c)             Cocok bagi orang yang akan menggunakannya.
d)            Tidak mengganggu kerja.
e)             Memiliki konstruksi yang sangat kuat.
f)              Tidak mengganggu alat pelindung lain yang sedang dipakai secara bersamaan.
g)             Tidak meningkatkan risiko terhadap pemakainya.

2.2.3. Macam-macam Alat Pelindung Diri (APD)
Dalam pemilihan terhadap jenis alat pelindung diri yang baik dan sesuai dengan kebutuhan, maka perlu dilakukan identifikasi terhadap potensi bahaya yang ada di lingkungan kerja, yang akan mencakup jenis dan sifat bahaya, jangka waktu pemajanan dan batas kemampuan alat pelindung tersebut (Moeljosoedarmo, 2008).
Macam-macam alat pelindung diri (APD) adalah sebagai berikut (Tarwaka, 2008) :
1.        Alat Pelindung Kepala
Digunakan untuk melindungi rambut terjerat oleh mesin yang berputar dan untuk melindungi kepala dari terbentur benda tajam atau keras, bahaya kejatuhan benda atau terpukul benda yang melayang, percikan bahan kimia korosif, panas panas sinar matahari. Jenis alat pelindung kepala antara lain :
a)             Topi Pelindung (Safety Helmets)
Berfungsi untuk melindungi kepala dari benda-benda keras yang terjatuh dan terkena arus listrik. Topi pelindung harus tahan terhadap pukulan, tidak mudah terbakar, tahan terhadap perubahan iklim dan tidak menghantarkan arus listrik. Topi pelindung dapat terbuat dari plastik serta gelas (fiberglass) maupun metal. Topi pelindung dari bahan bakelite enak dipakai karena ringan tahan terhadap benturan dan benda keras serta tidak menyalurkan arus listrik. Sedangkan topi pelindung biasanya dilengkapi dengan anyaman penyangga yang berfungsi untuk menyerap keringat dan mengatur pertukaran udara.
b)             Tutup Kepala
Berfungsi untuk melindungi kepala dari kebakaran, korosi, suhu panas atau dingin. Tutup kepala ini biasanya terbuat dari asbestos, kain tahan api/korosi, kulit dan kain tahan air.
c)             Topi (Hats/cap)
Berfungsi untuk melindungi kepala atau rambut dari kotoran/debu atau mesin yang berputar. Topi ini biasanya terbuat dari kain katun.
2.             Alat Pelindung Mata
Alat pelindung jenis ini digunakan untuk melindungi mata dari percikan bahan kimia korosif, debu dan partikel-partikel kecil yang melayang di udara, gas atau uap yang dapat menyebabkan iritasi mata, radiasi gelombang elektronik, panas radiasi sinar matahari, pukulan atau benturan benda keras.
a)             Kacamata (Spectacles)
Berfungsi untuk melindungi mata dari partikel-partikel kecil, debu dan radiasi gelombang elektromagnetik.
b)             Goggle
Berfungsi untuk melindungi mata dari gas, debu, uap dan percikan larutan bahan kimia. Goggle biasanya terbuat dari plastik transparan dengan lensa berlapis kobalt untuk bahaya radiasi gelombang elektromagnetik mengion.

3.             Alat Pelindung Telinga
Alat pelindung jenis ini digunakan untuk mengurangi intensitas yang masuk kedalam telinga. Macam-macam alat pelindung telinga, antara lain :
a)             Sumbat Telinga (Ear Plug)
Ear plug dapat terbuat dari kapas, plastik, karet alami dan bahan sintetis. Ear plug yang terbuat dari kapas, spon malam (wax) hanya dapat digunakan untuk sekali pakai (disposieble). Sedangkan yang terbuat dari bahan dan plastik yang dicetak dapat digunakan berulang kali.
b)             Tutup Telinga (Ear Muff)
Alat pelindung jenis ini terdiri dari 2 (dua) buah tutup telinga dan sebuah headband. Isi dari tutup telinga ini berupa cairan atau busa yang berfungsi untuk menyerap suara frekuensi tinggi. Pada pemakaian untuk waktu yang cukup lama, efektivitas ear muff dapat menurun karena bantalannya menjadi mengeras dan mengerut sebagai akibat reaksi dari bantalan dengan minyak dan keringat pada permukaan kulit. Alat ini dapat mengurangi intensitas suara 30 dB(A) dan juga dapat melindungi bagian luar telinga dari benturan benda keras atau percikan bahan api. Faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas alat pelindung telinga adalah :
1)   Kebocoran udara
2)   Peralatan gelombang suara melalui bahan alat pelindung
3)   Vibrasi alat itu sendiri
4)   Konduksi suara melalui tulang dan jaringan.
4.             Alat Pelindung Pernafasan
Alat pelindung jenis ini digunakan untuk melindungi pernafasan dari resiko paparan gas, uap, debu, atau udara terkontaminasi atau beracun, korosi atau yang bersifat rangsangan. Sebelum melakukan pemilhan terhadap suatu alat pelindung pernafasan yang tepat, maka perlu mengetahui informasi tentang potensi bahaya atau kadar kontaminan yang ada di lingkungan kerja. Hal-hal yang perlu diketahui antara lain :
a)             Bentuk kontaminan di udara, apakah gas, uap, kabut, fume, debu atau kombinasi dari berbagai kontaminan tersebut.
b)             Kadar kontaminan di udara lingkungan kerja.
c)             Nilai Ambang Batas (NAB) yang diperkenankan untuk masing-masing kontaminan.
d)            Reaksi fisilogis terhadap pekerja, seperti dapat menyebabkan iritasi mata dan kulit.
e)             Kadar oksigen di udara tempat kerja.
Secara umum, jenis alat pelindung pernafasan yang banyak digunakan diperusahaan-perusahaan antara lain :
1)             Masker
Digunakan untuk mengurangi paparan debu atau partikel-partikel yang lebih besar masuk ke dalam saluran pernafasan.
2)             Respirator
Digunakan untuk melindungi pernafasan dari paparan debu, kabut, uap logam, asap dan gas-gas berbahaya.

Jenis-jenis respirator ini adalah :
-       Chemical Respirator
Merupakan catridge respirator terkontaminasi gas dan uap dengan  toksisitas rendah Catridge ini berisi adsorban dan karbon aktif, arang dan silicagel. Sedangkan canister digunakan untuk mengabsorbsi khlor dan gas atau uap zat organik.
-       Mechanical Respirator
Alat pelindung ini berguna untuk menangkap partikel-partikel zat padat, debu, kabut, uap logam dan asap. Respirator ini biasanya dilengkapi dengan filter yang berfungsi untuk menangkap debu dan kabut dengan kadar kontaminasi udara tidak terlalu tinggi atau partikel yang tidak terlalu kecil. Filter pada respirator ini terbuat dari fiberglass atau wol dan serat sintetis yang dilapisi dengan mesin untuk memberi muatan pada partikel.
5.             Alat Pelindung Tangan
Digunakan untuk melindungi tangan dan bagian lainnya dari dari benda tajam atau goresan, bahan kimia, benda panas dan dingin, kontak dengan arus listrik. Sarung tangan terbuat dari karet untuk melindungi kontaminasi terhadap bahan kimia dan arus listrik dan sarung tangan dari kain/katun untuk melindungi kontak dengan panas dan dingin. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan sarung tangan sebagai berikut :
a)             Potensi bahaya yang ada di tempat kerja, apakah berupa bahan kimia korosif, benda panas, dingin, tajam atau benda keras.
b)             Daya tahan bahan terhadap bahan kimia, seperti sarung tangan karet alami tidak tepat pada paparan pelarut organik, karena karet alami larut dalam pelarut organik.
c)             Kepekaan objek yang digunakan, seperti pekerjan yang halus dengan memberikan benda-benda halus lebih tepat menggunakan sarung tangan yang tipis.
d)            Bagian tangan yang dilindungi, apakah hanya bagian jari saja, tangan, atau sampai bagian lengan.
6.             Alat Pelindung Kaki
Digunakan untuk melindungi kaki dan bagian lainnya dari benda-benda keras, benda tajam, logam/kaca, larutan kimia, benda panas, kontak dengan arus listrik. Menurut jenis pekerjaan yang dilakukan sepatu keselamatan dibedakan menjadi :
a)             Sepatu pengaman pada pengecoran baja
Sepatu ini terbuat dari bahan kulit yang dilapisi krom atau asbes dan  tingginya sekitar 35 cm. Pada pemakaian sepatu ini, celana dimasukkan ke dalam sepatu lalu dikencangkan dengan tali pengikat.
b)             Sepatu pengaman pada pekerjaan yang mengandung bahaya peledakan
Sepatu ini tidak boleh memakai paku-paku yang dapat menimbulkan percikan bunga api.
c)             Sepatu pengaman untuk pekerjaan yang berhubungan dengan listrik
Sepatu ini terbuat dari karet anti elektronik, tahan terhadap tegangan listrik sebesar 10.000 volt selama 3 menit.

d)            Sepatu pengaman pada pekerjaan bangunan konsentrasi
Sepatu ini terbuat dari bahan kulit yang dilengkapi dengan baja pada ujung depannya.
7.             Pakaian Pelindung
Digunakan untuk melindungi seluruh atau bagian tubuh dari percikan api, suhu panas atau dingin, cairan bahan kimia. Pakaian pelindung dapat berbentuk apron yang menutupi sebagian tubuh pemakainya yaitu mulai daerah dada sampai lulut atau overall yaitu menutupi suluruh bagian tubuh. Apron dapat terbuat dari kain dril, kulit, plastik PVC/polyethyline, karet, asbes atau kain yang dilapisi alumunium. Apron tidak boleh digunakan di tempat-tempat kerja dimana terdapat mesin-mesin yang berputar.
8.             Sabuk Pengaman Keselamatan
Digunakan untuk melindungi tubuh dari kemungkinan terjatuh dari ketinggian, seperti pekerjaan mendaki, memanjat dan pada pekerjaan kontruksi bangunan. Prinsip pemeliharaan alat pelindung diri dapat dilakukan dengan cara :
a)             Penjemuran di panas matahari untuk menghilangkan bau dan mencegah timbulnya jamur dan bakteri.
b)             Pencucian dengan air sabun untuk alat pelindung diri seperti safety helm, kacamata, ear plug yang terbuat dari karet, sarung tangan kain/kulit/karet.
c)             Penggantian catridge atau caniste rpada respirator setelah dipakai beberapa kali.
Agar alat pelindung diri tetap dapat digunakan secara baik, harus disimpan pada tempat penyimpanan yang bebas debu, kotoran, dan tidak terlalu lembab serta terhindar dari gigitan binatang. Penyimpanan harus diatur sedemikian rupa sehingga mudah diambil dan dijangkau oleh pekerja dan diupayakan disimpan di lemari khusus pelindung alat pelindung diri.
2.3.       Dermatitis Kontak
Dermatitis kontak ialah dermatitis yang disebabkan oleh bahan/ substansi yang menempel pada kulit. Dikenal dua macam dermatitis kontak, yaitu dermatitis kontak iritan dan dermatitis kontak alergik, keduanya dapat bersifat akut maupun kronis (Djuanda, 2013).
2.3.1.Dermatitis Kontak Iritan
1.       Definisi
Dermatitis kontak iritan merupakan reaksi peradangan kulit nonimunologik, jadi kerusakan kulit terjadi langsung tanpa didahului proses sensitisasi (Djuanda, 2013).
2.             Etiologi
Penyebab munculnya DKI adalah bahan yang bersifat iritan, misalnya bahan pelarut, deterjen, minyak pelumas, asam, alkali, dan serbuk kayu,. Kelainan kulit yang terjadi selain ditentukan oleh ukuran molekul, daya larut, konsentrasi bahan tersebut, dan vehikulum, juga dipengaruhi oleh faktor lain. Faktor yang dimaksud adalah lama kontak, kekerapan (terus menerus atau berselang), adanya oklusi menyebabkan kulit lebih pemeabel, demikian pula gesekan, dan trauma fisis, serta suhu dan kelembaban lingkungan (Djuanda, 2013).
Faktor individu juga ikut berpengaruh pada dermatitis kontak iritan, Misalnya perbedaan ketebalan kulit di berbagai tempat menyebabkan perbedaan permeabilitas, usia (anak dibawah umur 8 tahun lebih mudah teriritasi), ras (kulit hitam lebih tahan daripada kulit putih), jenis kelamin (insidens dermatitis kontak iritan lebih tinggi daripada wanita), dan penyakit kulit yang pernah atau sedang dialami (ambang rangsang terhadap bahan iritan turun), misalnya dermatitis atopik (Djuanda, 2013).
Sistem imun tubuh juga berpengaruh pada terjadinya dermatitis ini. Pada orang-orang yang immunocompromised, baik yang diakibatkan oleh penyakit yang sedang diderita, penggunaan obat-obatan, maupun karena kemoterapi, akan lebih mudah untuk mengalami dermatitis kontak (Hogan, 2009).
3.             Epidemiologi
Dermatitis kontak iritan (DKI) dapat diderita oleh semua orang dari berbagai golongan umur, ras dan jenis kelamin. Jumlah penderita DKI diperkirakan cukup banyak terutama yang berhubungan dengan pekerjaan (DKI akibat kerja), namun angkanya secara tepat sulit diketahui. Hal ini disebabkan antara lain oleh banyaknya penderita dengan kelainan ringan tidak datang berobat, atau bahkan tidak mengeluh (Djuanda, 2013).
Di Amerika, DKI sering terjadi pada pekerjaan yang melibatkan kegiatan mencuci tangan atau paparan berulang pada kulit terhadap air, bahan makanan atau iritan lainnya. Pekerjaan yang berisiko tinggi meliputi pembatu rumah tangga, pelayan rumah sakit, tukang masak, dan penata rambut. Prevalensi dermatitis tangan karena pekerjaan ditemukan sebesar 55,6% di intensive care unit dan 69,7% pada pekerja yang sering terpapar (dilaporkan dengan frekuensi mencuci tangan >35 kali setiap pergantian). Penelitian menyebutkan frekuensi mencuci tangan >35 kali setiap pergantian memiliki hubungan kuat dengan dermatitis tangan karena pekerjaan (odds ratio 4,13%) (Hogan, 2009).
Di Jerman, angka insiden DKI adalah 4,5 setiap 10.000 pekerja, dimana insiden tertinggi ditemukan pada penata rambut (46,9 kasus per 10.000 pekerja  setiap tahunnya), tukang roti dan tukang masak (Hogan, 2009). Berdasarkan jenis kelamin, DKI secara signifikan lebih banyak pada perempuan dibanding laki-laki. Tingginya frekuensi ekzem tangan pada wanita dibanding pria karena faktor lingkungan, bukan genetik (Hogan, 2009).
4.             Patogenesis
Kelainan kulit timbul akibat kerusakan sel yang disebabkan oleh bahan iritan melalui kerja kimiawi atau fisis. Bahan iritan merusak lapisan tanduk, denaturasi keratin, menyingkirkan lemak lapisan tanduk dan mengubah daya ikat air kulit. Kebanyak bahan iritan (toksin) merusak membran lemak keratinosit tetapi sebagian dapat menembus membran sel danmerusak lisosom, mitokondria atau komplemen inti (Djuanda, 2013).
Kerusakan membran mengaktifkan fosfolipase dan melepaskan asam arakidonat (AA), diasilgliserida (DAG), faktor aktivasi platelet, dan inositida (IP3). AA dirubah menjadi prostaglandin (PG) dan leukotrien (LT). PG dan LT menginduksi vasodilatasi, dan meningkatkan permeabilitas vaskuler sehingga mempermudah transudasi komplemen dan kinin. PG dan LT juga bertindak sebagai kemotraktan kuat untuk limfosit dan neutrofil, serta mengaktifasi sel mast melepaskan histamin, LT dan PG lain, dan PAF, sehingga memperkuat perubahan Vaskuler (Djuanda, 2013).
DAG dan second messenger lain menstimulasi ekspresi gen dan sintesis protein, misalnya interleukin-1 (IL-1) dan granulocyte macrophage-colony stimulating factor (GM-CSF). IL-1 mengaktifkan sel T-helper mengeluarkan IL-2 dan mengekspresi reseptor IL-2 yang menimbulkan stimulasi autokrin dan proliferasi sel tersebut. Keratinosit juga mengakibatkan molekul permukaan HLA-DR dan adesi intrasel (ICAM-1). Pada kontak dengan iritan, keratinosit juga melepaskan TNF-α, suatu sitokin proinflamasi yang dapat mengaktifasi sel T, makrofag dan granulosit, menginduksi ekspresi molekul adesi sel dan pelepasan sitokin (Djuanda, 2013).
Deretan kejadian tersebut menimbulkan gejala peradangan klasik di tempat terjadinya kontak di kulit berupa eritema, edema, panas, dan nyeri, bila iritan kuat. Sedangkan iritan lemah akan menimbulkan kelainan kulit setelah berulang kali kontak, dimulai dengan kerusakan stratum korneum oleh karena delipidasi yang menyebabkan desikasi dan kehilangan fungsi sawarnya, sehingga mempermudah kerusakan sel dibawahnya oleh iritan (Djuanda, 2013).





5.             Gejala Klinis
Gejala klinis dermatitis iritan dibedakan atas dermatitis kontak iritan akut dan dermatitis iritan kronik.
a)             Dermatitis kontak iritan akut
Luka bakar oleh bahan kimia juga termasuk dermatitis kontak iritan akut. Penyebab dermatitis kontak iritan akut adalah iritan kuat, misalnya larutan asam sulfat dan asam hidroklorid atau basa kuat, misalnya natrium dan kalium hidroksida. Biasanya terjadi karena kecelakaan, dan reaksi segera timbul. Intensitas reaksi sebanding dengan konsentrasi dan lamanya kontak dengan iritan, terbatas pada tempat kontak kulit teras pedih, panas, rasa terbakar, kelainan yang terlihat berupa eritema, edema, bula, mungkin juga nekrosis. Pinggir kelainan kulit berbatas tegas, dan pada umumnya asimetris (Djuanda, 2013).
b)             Dermatitis kontak iritan kronis
DKI kronis disebabkan oleh kontak dengan iritan lemah (faktor fisis, misalnya gesekan, trauma mikro, kelembaban rendah, panas atau dingin) yang berulang-ulang, dan mungkin bisa terjadi oleh karena kerjasama berbagai macam faktor. Bisa jadi suatu bahan secara sendiri tidak cukup kuat menyebabkan dermatitis iritan, tetapi baru mampu bila bergabung dengan faktor lain. Kelainan baru nyata setelah berhari-hari, berminggu-minggu atau bulan, bahkan bisa bertahun-tahun. Sehingga waktu dan deretan kontak merupakan faktor paling penting (Djuanda, 2013).
Gejala klasik berupa kulit kering, eritema, skuama, lambat laun kulit tebal  (hiperkeratosis) dan terjadi likenifikasi, batas kelainan tidak tegas. Bila kontak terus berlangsung maka dapat menimbulkan retak kulit yang disebut fisura. Misalnya pada kulit tumit tukang cuci yang mengalami kontak terus menerus dengan deterjen. Keluhan penderita umumnya rasa gatal atau nyeri karena kulit retak (fisur) (Djuanda, 2013).
Ada kalanya kelainan hanya berupa kulit kering dan skuama tanpa eritema, sehingga diabaikan oleh penderita. Setelah kelainan dirasakan mengganggu, baru mendapat perhatian. Dermatitis kontak iritan kronis sering berhubungan dengan pekerjaan, oleh karena itu lebih banyak ditemukan di tangan dibandingkan dengan dibagian lain tubuh. Contoh pekerjaan yang berisiko tinggi untuk dermatitis kontak iritan kronis, yaitu : tukang cuci, kuli bangunan, montir di bengkel, juru masak, tukang kebun, dan peñata rambut (Djuanda, 2013).
6.             Pengobatan
Upaya pengobatan DKI yang terpenting adalah menghindari pajanan bahan iritan, baik yang bersifat mekanik, fisis atau kimiawi serta menyingkirkan faktor yang memperberat. Bila dapat dilakukan dengan sempurna dan tanpa komplikasi, maka tidak perlu pengobatan topikal dan cukup dengan pelembab untuk memperbaiki kulit yang kering (Djuanda, 2013).
Apabila diperlukan untuk mengatasi peradangan dapat diberikan kortikosteroid topikal, misalnya hidrokortison, atau untuk kelainan yang kronis dapat diawali dengan kortikosteroid yang lebih kuat. Pemakaian alat perlindungan diri yang adekuat diperlukan bagi mereka yang bekerja dengan bahan iritan, sebagai salah satu upaya pencegahan (Djuanda, 2013).
2.3.2.Dermatitis Kontak Alergi
1.       Definisi
Dermatitis kontak alergi adalah dermatitis kontak yang terjadi pada seseorang yang telah mengalami sensitisasi terhadap suatu allergen (Djuanda, 2013).
2.             Etiologi
Penyebab dermatitis kontak alergik adalah alergen, paling sering berupa bahan kimia sederhana dengan berat molekul umumnya rendah (<1000 Dalton), merupakan alergen yang belum diproses, disebut hapten, bersifat lipofilik, sangat reaktif, dapat menembus stratum komeum sehingga mencapai sel epidermis dibawahnya (sel hidup). Berbagai faktor berpengaruh terhadap terjadinya dermatitis kontak alergik, misalnya potensi sensitisasi alergen, dosis per unit area, luas daerah yang terkena, lama pajanan, oklusi, suhu, dan kelembaban lingkungan, vehikulum dan pH, serta faktor individu, misalnya kondisi kulit pada lokasi kontak (keadaan stratum komeum), dan status imunologik ( misalnya sedang menderita sakit, terpajan sinar matahari) (Djuanda, 2013).
3.             Epidemiologi
Bila dibandingkan dengan dermatitis kontak iritan, jumlah penderita dermatitis kontak alergik lebih sedikit, karena hanya mengenai orang yang kulitnya sangat peka (hipersensitif). Diramalkan bahwa jumlah dermatitis kontak (iritan dan alergik) makin bertambah seiring dengan bertambahnya jumlah produk yang mengandung bahan kimia yang dipakai oleh masyarakat. Namun informasi mengenai prevalensi dan insidens dermatitis kontak alergik di masyarakat sangat sedikit, sehingga berapa angka yang mendekati kebenaran belum didapat (Djuanda, 2013).
Dahulu diperkirakan bahwa kejadian dermatitis kontak iritan akibat kerja sebanyak 80% dan dermatitis kontak alergik sebanyak 20%, tetapi data baru dari Inggris dan Amerika Serikat menunjukkan bahwa dermatitis kontak akibat kerja akibat alergi ternyata cukup tinggi, yaitu berkisar antara 50%-60%. Sedangkan dari satu penelitian ditemukan frekuensi dermatitis kontak alergik bukan akibat kerja tiga kali lebih sering daripada dermatitis kontak alergik akibat kerja (Djuanda, 2013).
4.             Patogenesis
Mekanisme terjadinya kelainan kulit pada dermatitis kontak alergi adalah mengikuti respons imun yang diperantarai oleh sel (cell-mediated immune respons) atau reaksi hipersensitivitas tipe IV. Reaksi hipersensitivitas di kulit timbul secara lambat (delayed hypersensitivity), umumnya dalam waktu 24 jam setelah terpajan dengan alergen. Reaksi ini terjadi melalui dua fase, yaitu fase sensitisasi dan fase elisitasi. Hanya individu yang telah mengalami sensitisasi dapat menderita dermatitis kontak alergik (Djuanda, 2013).
a)             Fase sensitisasi
Hapten yang masuk ke dalam epidermis melewati stratum korneum akan ditangkap oleh sel Langerhans dengan cara pinositosis, dan diproses secara kimiawi oleh enzim lisosom atau sitosol serta dikonjugasikan pada molekul HLA-DR menjadi antigen lengkap. Pada awalnya sel Langerhans dalam keadaan istirahat, dan hanya berfungsi sebagai makrofag dengan sedikit kemampuan menstimulasi sel T. Tetapi, setelah keratinosit terpajan oleh hapten yang juga mempunyai sifat iritan, akan melepaskan sitokin (IL-1) yang akan mengaktifkan sel Langerhans, sehingga mampu menstimulasi sel-T. Aktivasi tersebut akan mengubah fenotip sel Langerhans, dan meningkatkan sekresi sitokin tertentu. (misalnya IL-1) serta ekspresi molekul permukaan sel termasuk MHC kelas I dan II, ICAM-1, LFA-3 dan B7. Sitokin proinflamasi lain yang dilepaskan oleh keratinosit, yaitu TNFα, yang dapat mengaktivasi sel-T, makrofag dan granulosit, menginduksi perubahan molekul adesi sel dan pelepasan sitokin juga meningkatkan MHC kelas I dan II (Djuanda, 2013).
TNFα menekan produksi E-cadherin yang mengikat sel Langerhans pada epidermis, juga menginduksi aktivitas gelatinolisis sehingga memperlancar sel langerhans melewati membran basalis bermigrasi ke kelenjar getah bening setempat melalui saluran limfe. Di dalam kelenjar limfe, sel Langerhans mempersentasikan kompleks HLA-DR-antigen kepada sel-T penolong spesifik., yaitu yang mengekspresikan molekul CD4 yang mengenali HLA-DR sel Langerhans, dan kompleks reseptor sel-T-CD3 yang mengenali antigen yang telah diproses. Ada atau tidak adanya sel-T spesifik ini ditentukan secara genetik (Djuanda, 2013).
Sel Langerhans mensekresi IL-1 yang menstimulasi sel-T untuk mensekresi IL-2 dan mengekspresi reseptor-IL-2 (IL-2R). Sitokin ini akan menstimulasi proliferasi sel-T spesifik, sehingga menjadi lebih banyak. Turunan sel-T memori (sel-T teraktivasi) akan meninggalkan kelenjar getah bening dan beredar ke seluruh tubuh. pada saat tersebut individu menjadi tersensitisasi. Fase ini rata-rata berlangsung selama 2-3 minggu (Djuanda, 2013).
b)             Fase elisitasi
Fase kedua (elisitasi) hipersensitivitas tipe lambat terjadi pada pajanan ulang alergen (hapten). Seperti pada fase sensitisasi, hapten akan ditangkap oleh sel Langerhans dan diproses secara kimiawi menjadi antigen, diikat oleh HLA-DR, kemudian diekspresikan di permukaan sel. Selanjutnya kompleks HLA-DR-antigen ankan dipresentasikan kepada sel-T yang telah tersensitisasi (sel-T memori) baik di kulit maupun di kelenjar limfe sehingga terjadi proses aktivasi. Di kulit proses aktivasi lebih kompleks dengan hadirnya sel-sel lain. Sel Langerhans mensekresi IL-1 yang menstimulasi sel-T untuk memproduksi IL-2 dan mengekspresikan IL-2R, yang akan menyebabkan proliferasi dan ekspansi populasi sel-T di kulit. Sel-T teraktivasi juga mengeluarkan IFN-Y yang akan mengaktifkan keratinosit mengekspresikan ICAM-1 dan HLA-DR. Adanya ICAM-1 memungkinkan keratinosit untuk berinteraksi dengan sel-T dan leukosit yang lain yang mengekspresikan molekul LFA-1. Sedangkan, HLA-DR memungkinkan keratinosit untuk berinterksi langsung dengan sel-T CD4+, dan juga memungkinkan presentasi antigen kepada sel tersebut. HLA-DR juga dapat merupakan target sel-T sitotoksik pada keratinosit (Djuanda, 2013).
Keratinosit menghasilkan juga sejumlah sitokin antara lain IL-1, IL-6, TNFα, GMCSF, semuanya dapat mengaktivasi sel-T. IL-1 dapat menstimulasi keratinosit menghasilkan eikosanoid. Sitokin dan eikosanoid ini akan mengaktifkan sel mas dan makrofag. Sel mas yang berada dekat pembuluh darah dermis akan melepaskan antara lain histamine, berbagai jenis faktor kemotaktik, PGE2 dan PGD2, dan leukotrien B4 (LTB4). Eikosanoid baik yang berasal dari sel mas (prostaglandin) maupun dari keratinosit atau leukosit menyebabkan dilatasi vaskuler dan meningkatkan permeabilitas sehingga molekul larut seperti komplemen dan kinin mudah berdifusi ke dalam dermis dan epidermis (Djuanda, 2013).
Selain itu, faktor kemotaktik dan eikosanoid akan menarik neutrofil, monosit dan sel darah lain dalam pembuluh darah masuk ke dalam dermis. Rentetan kejadian tersebut akan menimbulkan respons klinik dermatitis kontak alergik. Fase elisitasi umumnya berlangsung antara 24-48 jam (Djuanda, 2013).
5.             Gejala Klinis
Penderita pada umumnya mengeluh gatal. Kelainan kulit bergantung pada keparahan dermatitis. Pada yang akut dimulai dengan bercak eritema berbatas jelas, kemudian diikuti edema, papulovesikel, vesikel atau bula. Vesikel atau bula dapat pecah menimbulkan erosi dan eksudasi (basah) (Djuanda, 2013).
Pada penderita yang kronis terlihat kulit kering, berskuama, papul, likenifikasi dan mungkin juga fisur, batasnya tidak jelas. Kelainan ini sulit dibedakan dengan dermatitis kontak iritan kronis karena kemungkinan penyebabnya juga campuran (Djuanda, 2013).



6.             Pengobatan
Kortikosteoroid dapat diberikan dalam jangka pendek untuk mengatasi peradangan pada dermatitis kontak alergi akut yang ditandai dengan eritema, ede ma, bula atau vesikel, serta eksudatif. Umumnya kelainan kulit akan mereda setelah beberapa hari. Kelainan kulitnya cukup dikompres dengan larutan garam faal.Untuk dermatitis kontak alergik yang ringan, atau dermatitis akut yang telah mereda (setelah mendapat pengobatan kortikosteroid sistemik), cukup diberikan kortikosteroid topikal (Djuanda, 2013).
2.4.      Hubungan Personal Hygiene serta Alat Pelindung Diri (APD) dengan Terjadinya Dermatitis Kontak pada Pemulung
Kebersihan merupakan hal yang sangat penting dan harus diperhatikan, karena kebersihan juga mempengaruhi kesehatan dan psikis seseorang. Kebersihan itu sendiri sangat dipengaruhi oleh nilai individu dan kebiasaan. Pemenuhan personal hygiene diperlukan untuk kenyamanan individu, keamanan, dan kesehatan. Praktik personal hygiene bertujuan untuk peningkatan kesehatan dimana kulit merupakan garis tubuh pertama dari pertahanan melawan infeksi (Potter & Perry, 2006).
Perlindungan tenaga kerja melalui usaha-usaha teknis pengamanan tempat, peralatan dan lingkungan kerja adalah sangat perlu di utamakan. Namun, kadang-kadang risiko bahaya ditempat kerja masih belum dapat dikendalikan sepenuhnya, sehingga digunakan alat - alat pelindung diri (Tarwaka, 2008).
Dilihat dari sudut pandang kesehatan, risiko bahaya sebagai pemulung tentunya sangat besar sekali, karena sampah tentunya mengandung banyak sekali bakteri-bakteri patogen akibat pembusukan zat-zat organik yang bisa masuk ke tubuh melalui pori–pori, kulit dan pernafasan. Jika komponen zat berbahaya pada barang bekas tersebut masuk ke tubuh, maka akan menyebabkan berbagai macam penyakit (Triyanto, 2009). Tingginya risiko terkena dermatitis kontak pada pemulung dapat dicegah dengan menjaga kebersihan diri dan penggunaan alat pelindung diri pada saat bekerja mengais sampah. Dengan adanya prilaku Hygiene, seperti halnya mencuci tangan sebelum makan, selalu mengganti pakaian kerja, dan lain-lain, maka pemulung akan dapat meminimalkan risiko terkena penyakit dermatitis kontak. Begitu juga halnya dengan penggunaan alat pelindung diri, seperti sarung tangan karet, dan sepatu boot. Perlindungan tangan dan kaki untuk pemulung sangat penting agar risiko terjadinya penyakit dermatitis kontak dapat diminimalisir.
Berdasarkan hasil penelitian Budiono dan Cahyawati (2011), mengenai kejadian dermatitis pada nelayan dapat disimpulkan bahwa ada faktor-faktor yang berhubungan meliputi masa kerja, alat pelindung diri, riwayat pekerjaan, hygiene personal, riwayat penyakit kulit, dan riwayat alergi dengan kejadian dermatitis pada nelayan. kemudian hasil penelitian Listautin (2012), tentang keluhan kesehatan salah satunya keluhan gangguan kulit pada pemulung menunjukkan ada hubungan paparan terhadap cahaya matahari, zat kimia hidrogen sulfida, jam kerja, kebersihan kulit, kebersihan tangan, kuku dan kaki, dan alat pelindung diri, dengan keluhan gangguan kulit.

No comments:

Post a Comment