BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengertian Personal Hygiene
2.1.1.
Definisi
Personal
hygiene berasal dari bahasa Yunani, yaitu personal, yang artinya
perorangan dan hygiene, yang
berarti sehat. Personal
hygiene adalah perawatan diri yang dilakukan orang, seperti mandi,
eliminasi, hygiene tubuh secara umum
dan berhias (Kozier, 2010).
Menurut Tarwoto (2010), personal hygiene adalah suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan
kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis. Manfaat yang didapat
dengan merawat kebersihan diri adalah memperbaiki kebersihan diri, mencegah
penyakit, meningkatkan kepercayaan diri dan menciptakan keindahan.
Personal higiene menjadi penting karena personal
hygiene yang baik akan meminimalkan pintu masuk (port de entry) mikroorganisme yang ada dimana-mana dan pada
akhirnya mencegah seseorang terkena penyakit. Personal hygiene merupakan perawatan diri dimana seseorang merawat fungsi-fungsi
tertentu, seperti mandi, toileting
dan kebersihan tubuh secara umum. Kebersihan diri diperlukan untuk kenyamanan,
keamanan dan kesehatan seseorang. Kebersihan diri merupakan langkah awal
mewujudkan kesehatan diri. Dengan tubuh yang bersih meminimalkan risiko
seseorang terhadap kemungkinan terjangkitnya suatu penyakit terutama penyakit
yang berhubungan dengan kebersihan diri yang tidak baik. Personal hygiene yang tidak baik akan mempermudah tubuh terserang
berbagai penyakit seperti penyakit kulit, penyakit infeksi, penyakit mulut dan
penyakit saluran cerna (Saryono dan Widianti dalam Listautin, 2012).
2.1.2.
Macam-macam Personal Hygiene
Pemeliharaan
personal hygiene berarti tindakan memelihara kebersihan dan kesehatan
diri seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikisnya. Seseorang dikatakan
memiliki personal hygiene yang
baik, apabila orang tersebut dapat menjaga kebersihan tubuhnya yang
meliputi kebersihan kulit, gigi dan mulut, rambut, mata, hidung, dan telinga,
kaki dan kuku, genitalia, serta
kebersihan dan kerapihan pakaiannya.
Menurut
Potter dan Perry (2010), macam-macam personal hygiene adalah:
a)
Kebersihan kulit
Kulit memiliki fungsi
perlindungan, sekresi, ekskresi, regulasi suhu, dan sensasi. Kulit memilki tiga
lapisan utama yaitu epidermis, dermis dan subkutan. Epidermis (lapisan luar)
tersusun atas beberapa lapisan sel tipis dengan berbagai tingkat maturasi.
Lapisan ini melindungi kulit dari kehilangan air dan cedera, serta mencegah masuknya
mikroorganisme. Lapisan terdalam epidermis menghasilkan sel baru untuk
menggantikan sel mati yang dilepaskan oleh lapisan luar. Bakteri umumnya berada
di epidermis luar. Ini adalah flora normal yang tidak menyebabkan penyakit dan
menghambat bertambahnya mikroorganisme patologis.
Dermis
merupakan lapisan kulit yang lebih tebal, serta mengandung serat kolagen dan
serabut elastik untuk menyokong epidermis. Saraf, pembuluh darah, kelenjar
keringat, dan kelenjar sebasea, serta folikel rambut berjalan melalui lapisan
dermis. Kelenjar sebasea menyekresikan sebum, suatu cairan berminyak kedalam
folikel rambut.
Lapisan
Subkutan mengandung pembuluh darah, saraf, limfe, dan jaringan ikat longgar
yang terisi sel lemak. Jaringan lemak merupakan penyimpan panas bagi tubuh.
Jaringan subkutan juga menyokong lapisan diatasnya untuk menahan stress dan
tekanan. Jaringan subkutan sangat sedikit terdapat pada mukosa mulut. Kulit menggambarkan
perubahan fisik dengan perubahan warna, ketebalan, tekstur, turgor, suhu dan hidrasi
Sepanjang kulit masih utuh dan sehat, fungsi fisiologisnya akan tetap optimal.
Menurut Kozier (2010),
Kulit normal orang sehat mempunyai mikroorganisme yang tinggal sementara atau
menetap di kulit dan umumnya tidak berbahaya. Kulit yang tidak terawat
kebersihannya, akan berisiko besar terhadap terjadinya infeksi kulit yang
disebabkan oleh bakteri, jamur, maupun subtansi/partikel bahan iritan. Saat ini
banyak penyakit kulit (Dermatitis kontak) yang terjadi dikalangan pemulung. Hal
ini dikarenakan pemulung berkontak langsung dengan sampah-sampah yang banyak
mengandung mikroorganisme/agent penyakit. Kurangnya perawatan diri, terutama
kebersihan kulit dan tidak adanya penggunaan APD yang sesuai, menyebabkan
risiko terjadinya infeksi kulit akan semakin besar.
b)
Kebersihan kaki, tangan, dan kuku
Kaki,
tangan, dan kuku membutuhkan perhatian khusus untuk mencegah infeksi. Cedera di
kulit menimbulkan nyeri serta sangat mengganggu kemampuan individu untuk
berjalan dan menyanggah beban. Sedangkan tangan lebih bersifat manipulatif
daripada suportif.
Ketangkasan
tangan sangat banyak karena besarnya rentang gerak antara ibu jari dan jari
lainnya. Kondisi yang menggangu ini akan mengganggu kemampuan perawatan
seseorang. Tangan
adalah bagian tubuh manusia yang paling sering berhubungan dengan mulut dan
hidung secara langsung. Sehingga tangan merupakan salah satu penghantar utama
masuknya kuman penyebab penyakit ke dalam tubuh manusia. Apabila tangan manusia
menyentuh tinja atau feses akan terkontaminasi lebih dari 10 juta virus dan 1
juta bakteri yang dapat menimbulkan penyakit. Virus dan bakteri tidak dapat
dilihat secara langsung sehingga sering diabaikan dan mudah masuk kedalam tubuh
manusia (Zein dalam Listautin, 2012).
Menurut Zein dalam Lestautin (2012),
Cuci tangan memakai sabun, bagi sebagian besar masyarakat sudah menjadi
kegiatan rutin sehari-hari. Tapi bagi sebagian masyarakat lainnya cuci tangan
pakai sabun belum menjadi kegiatan rutin, terutama bagi anak-anak. Cuci tangan
pakai sabun dapat menghilangkan sejumlah besar virus dan bakteri yang menjadi
penyebab berbagai penyakit terutama penyakit yang menyerang saluran cerna
seperti diare dan penyakit infeksi saluran pernafasan akut. Sedangkan
permasalahan kaki dan kuku, disebabkan karena salah pemotongan kuku,
menggunakan alas kaki yang terlalu sempit dan terpaparnya zat kimia yang tajam.
Kuku
merupakan jaringan epitel yang tumbuh dari akar bantalan kuku, berlokasi di
dalam kulit pada cekungan kuku, tersembunyi oleh lipatan kulit yang disebut
kultikula. Bagian kulit yang terlihat disebut badan kuku. Terdapat area putih
seperti bulan sabit yang disebut lunula. Di bawah kulit terdapat lapisan
epithelium (nail bed). Kuku yang
normal tampak transparan, mulus, dan cembung dengan bantalan kuku berwarna
merah muda dan ujung kuku berwarna putih transparan. Penyakit dapat mengubah
bentuk, ketebalan, dan lengkungan kuku (Potter & Perry, 2010).
Kuku
selanjutnya tumbuh selama hidup dan mengalami sedikit perubahan pada lansia.
Pada pertumbuhannya, kuku menjadi lebih kuat, lebih rapuh, dan pada beberapa
kasus menebal. Kuku pada lansia tumbuh lebih lambat dibandigkan orang yang
masih muda dan mungkin lebih kaku dan berlekuk-lekuk (Kozier, 2010).
c)
Kebersihan rongga mulut
Rongga mulut dilapisi
membran mukosa yang bersambung dengan kulit. Rongga mulut terdiri atas bibir,
pipi di bagian samping rongga mulut, lidah dan ototnya, serta palatum lunak dan
keras. Dasar mulut dan permukaan bawah lidah kaya akan pembuluh darah. Ulkus
atau trauma akan menimbulkan perdarahan yang cukup banyak. Terdapat 3 pasang
kelenjar ludah yang menyekresikan sekitar 1 liter saliva tiap harinya. Kelenjar
bukal pada mukosa pipi dan mulut mempertahankan hygiene dan kenyamanan jaringan mulut. Efek obat, pajanan radiasi,
dan pernafasan mulut akan mengganggu sekresi saliva.
Gigi merupakan organ
pengunyah atau mastika. Gigi dirancang utnuk memotong, merobek, dan mencerna
makanan agar dapat bercampur dengan saliva dan ditelan. Gigi normal terdiri
atas mahkota, leher, dan akar. Membran periodontal terletak tepat di bawah
batas gusi, mengelilingi satu gigi dan menahannya di tempat. Gigi sehat tampak
putih, mulus, berkilau, dan tersusun rapi.
Kesulitan mengunyah
akan timbul jika jaringan gusi mengalami peradangan atau infeksi atau jika gigi
tanggal/ kendur. Hygiene mulut
teratur dibutuhkan untuk mempertahankan integritas permukaan gigi dan mencegah
gingivitis, atau inflamasi gusi.
d)
Kebersihan mata, hidung dan telinga
Secara normal tidak ada
perawatan khusus yang diperlukan untuk membersihkan mata, hidung, dan telinga
selama individu mandi. Secara normal tidak ada perawatan khusus yang diperlukan
untuk mata karena secara terus-menerus dibersihkan oleh air mata, kelopak mata
dan bulu mata mencegah masuknya partikel asing kedalam mata. Normalnya, telinga
tidak terlalu memerlukan pembersihan. Namun, telinga yang serumen terlalu
banyak perlu dibersihkan baik mandiri atau dibantu oleh keluarga. Hygiene
telinga mempunyai implikasi untuk ketajaman pendengaran. Bila benda asing
berkumpul pada kanal telinga luar, maka akan mengganggu konduksi suara. Hidung
berfungsi sebagai indera penciuman, memantau temperatur dan kelembapan udara
yang dihirup, serta mencegah masuknya partikel asing ke dalam system pernapasan.
Membersihkan sekresi hidung biasa dilakukan dengan menghembuskannya ke kertas
tisu yang lembut. Ketika sekresi lubang hidung eksternal mongering, harus
dibersihkan dengan lidi kapas yang dilembabkan dengan salin atau air.
e)
Perawatan rambut
Rambut merupakan bagian
dari tubuh yang memiliki fungsi sebagai proteksi serta pengatur suhu, melalui
rambut perubahan status kesehatan diri dapat diidentifikasi. Penampilan dan
kesejahteraan seseorang seringkali tergantung dari cara penampilan dan perasaan
mengenai rambutnya. Menyikat, menyisir dan bershampo adalah cara-cara dasar higienis
perawatan rambut. Pertumbuhan, distribusi, pola rambut dapat menjadi
indikator status kesehatan umum seseorang. Rambut dipengaruhi perubahan hormonal,
stress emosional, dan fisik, penuaan, infeksi dan penyakit tertentu.
f)
Perawatan genetalia
Perawatan genitalia
merupakan bagian dari mandi lengkap. Seseorang yang paling butuh perawatan
genitalia yang teliti adalah yang beresiko terbesar memperoleh infeksi.
Seseorang yang tidak mampu melakukan perawatan diri dapat dibantu keluarga
untuk melakukan personal hygiene.
2.1.3.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Personal Hygiene
Menurut
Potter dan Perry (2010), pilihan hygiene
seseorang dipengaruhi oleh sejumlah faktor, antara lain :
a)
Praktik
sosial
Kelompok sosial mempengaruhi pilihan hygiene, termasuk
produk dan frekuensi perawatan pribadi. Selama masa kanak-kanak, kebiasaan
keluarga mempengaruhi hygiene, misalnya frekuensi mandi, waktu mandi,
dan jenis hygiene mulut. Pada masa remaja, hygiene pribadi
dipengaruhi oleh kelompok teman. Remaja wanita misalnya, menjadi tertarik pada
penampilan pribadi dan mulai memakai riasan wajah. Pada masa dewasa, teman dan
kelompok kerja membentuk harapan tentang penampilan pribadi. Beberapa praktik hygiene
pada lansia berubah karena kondisi hidupnya dan sumber yang tersedia
b)
Pilihan
pribadi
Tiap individu memiliki keinginan sendiri dalam
menentukan waktu bercukur, mandi, dan mengurus rambut. Pemilihan produk
didasarkan pada selera pribadi, kebutuhan, dan dana. Pengetahuan tentang
pilihan individu akan membantu perawatan yang terindividualisasi. Selain itu,
membantu individu untuk membangun praktik hygiene baru jika ada
penyakit.
c)
Citra tubuh
Citra tubuh mempengaruhi cara seseorang memelihara hygiene.
Penampilan umum seseorang menggambarkan pentingnya hygiene bagi dirinya. Citra tubuh adalah konsep subjek
seseorang tentang tubuhnya, termasuk penampilan, struktur, atau fungsi fisik.
Citra ini sering berubah, saat individu menderita penyakit, atau perubahan
status fungsional, citra tubuh akan berubah dramatis.
d)
Status sosial
ekonomi
Status ekonomi akan
mempengaruhi jenis dan sejauh mana praktik hygiene
dilakukan. Personal hygiene memerlukan alat dan bahan seperti sabun,
pasta gigi, sikat gigi, shampo dan alat mandi yang semuanya memerlukan uang
untuk menyediakannya. Jika seseorang mengalami masalah ekonomi, dirinya akan
sulit berpartisipasi dalam aktivitas promosi kesehatan, seperti hygiene dasar.
e)
Kepercayaan dan motivasi kesehatan
Pengetahuan
tentang hygiene akan mempengaruhi praktik hygiene. Namun, hal ini saja tidak cukup, karena motivasi merupakan
kunci penting dalam pelaksanaan hygiene. Kesulitan
internal yang mempengaruhi akses praktik hygiene
adalah ketiadaan motivasi karena kurangnya pengetahuan.
f)
Variabel budaya
Kepercayaan
budaya dan nilai pribadi seseorang akan mempengaruhi perawatan hygiene . setiap budaya memiliki praktik
hygiene yang berbeda. Beberapa budaya tidak menganggap
kesehatan sebagai hal yang penting. Ada pandangan masyarakat jika individu sakit
tertentu maka tidak boleh dimandikan.
g)
Kondisi fisik
Seseorang dengan keterbatasan fisik
biasanya tidak memiliki energy dan ketangkasan untuk melakukan hygiene. Pada keadaan sakit, tentu
kemampuan untuk merawat diri berkurang dan perlu bantuan untuk melakukannya.
2.2. Alat Pelindung Diri (APD)
2.2.1. Definisi
Alat
Pelindung Diri adalah seperangkat alat keselamatan yang digunakan oleh pekerja
untuk melindungi seluruh atau sebagian tubuhnya dari kemungkinan adanya
pemaparan potensi bahaya lingkungan kerja terhadap kecelakaan dan penyakit
akibat kerja (Tarwaka, 2008).
Perlindungan keselamatan pekerja
melalui upaya teknis pengamanan tempat, peralatan dan lingkungan kerja wajib
diutamakan. Sebab keadaan bahaya masih belum dapat dikendalikan sepenuhnya,
sehingga digunakan alat - alat pelindung diri. Alat pelindung haruslah nyaman
dipakai, tidak mengggangu kerja dan memberikan perlindungan yang efektif
(Suma’mur, 2009).
2.2.2. Pemilihan Alat Pelindung Diri (APD)
Setiap
tempat kerja mempunyai potensi bahaya yang berbeda-beda sesuai dengan jenis, bahan
dan proses produksi yang dilakukan. Dengan demikian, sebelum melakukan
pemilihan alat pelindung diri mana yang tepat digunakan, diperlukan adanya
suatu investarisasi potensi bahaya yang ada di tempat kerja masing-masing. Meskipun
kebutuhan akan alat-alat pelindung diri telah tertanamkan, maka pemilihan tipe
yang baik dan sesuai utnuk melakukan suatu pekerjaan harus dilakukan
(Moeljosoedarmo, 2008).
Oleh
karena itu, alat pelindung diri yang baik harus memiliki beberapa persyaratan,
diantaranya adalah sebagai berikut (Moeljosoedarmo, 2008) :
a)
Alat
pelindung diri harus dapat melindungi terhadap bahaya dimana tenaga kerja
terpajan.
b)
Alat
(pakaian) pelindung diri harus ringan dan efisien dalam memberi perlindungan.
c)
Sebagai
alat pelengkap terhadap tubuh harus fleksibel namun efektif.
d)
Berat
alat yang harus diterima oleh bagian tubuh, dapat ditahan dengan baik.
e)
Tenaga
kerja yang memakai alat pelindung diri harus tidak terhalang gerakannya maupun
tanggapan panca inderanya.
f)
Alat-alat
pelindung diri harus tahan lama.
g)
Alat-alat
pelindung diri harus menarik.
h)
Bagian-bagian
penting yang harus sering diganti agar ada persediaannya.
i)
Alat-alat
pelindung diri harus tidak memberikan efek samping (bahaya tambahan karena
pemakaian) baik oleh karena bentuknya, konstruksi, bahan, atau mungkin
penyalahgunaan. Kriteria Alat Pelindung Diri.
Sedangkan
menurut Ridley (2008), alat pelindung diri yang efektik harus memenuhi beberapa
kriteria dibawah ini:
a)
Sesuai
dengan bahaya yang dihadapi.
b)
Terbuat
dari material yang akan tahan terhadap bahaya tersebut.
c)
Cocok
bagi orang yang akan menggunakannya.
d)
Tidak
mengganggu kerja.
e)
Memiliki
konstruksi yang sangat kuat.
f)
Tidak
mengganggu alat pelindung lain yang sedang dipakai secara bersamaan.
g)
Tidak
meningkatkan risiko terhadap pemakainya.
2.2.3. Macam-macam
Alat Pelindung Diri (APD)
Dalam
pemilihan terhadap jenis alat pelindung diri yang baik dan sesuai dengan
kebutuhan, maka perlu dilakukan identifikasi terhadap potensi bahaya yang ada
di lingkungan kerja, yang akan mencakup jenis dan sifat bahaya, jangka waktu
pemajanan dan batas kemampuan alat pelindung tersebut (Moeljosoedarmo, 2008).
Macam-macam
alat pelindung diri (APD) adalah sebagai berikut (Tarwaka, 2008) :
1.
Alat
Pelindung Kepala
Digunakan untuk melindungi rambut terjerat
oleh mesin yang berputar dan untuk melindungi kepala dari terbentur benda tajam
atau keras, bahaya kejatuhan benda atau terpukul benda yang melayang, percikan
bahan kimia korosif, panas panas sinar matahari. Jenis alat pelindung kepala
antara lain :
a)
Topi
Pelindung (Safety Helmets)
Berfungsi untuk melindungi kepala
dari benda-benda keras yang terjatuh dan terkena arus listrik. Topi pelindung
harus tahan terhadap pukulan, tidak mudah terbakar, tahan terhadap perubahan
iklim dan tidak menghantarkan arus listrik. Topi pelindung dapat terbuat dari
plastik serta gelas (fiberglass)
maupun metal. Topi pelindung dari bahan bakelite
enak dipakai karena ringan tahan terhadap benturan dan benda keras serta tidak
menyalurkan arus listrik. Sedangkan topi pelindung biasanya dilengkapi dengan
anyaman penyangga yang berfungsi untuk menyerap keringat dan mengatur
pertukaran udara.
b)
Tutup
Kepala
Berfungsi untuk melindungi kepala
dari kebakaran, korosi, suhu panas atau dingin. Tutup kepala ini biasanya
terbuat dari asbestos, kain tahan api/korosi, kulit dan kain tahan air.
c)
Topi
(Hats/cap)
Berfungsi untuk melindungi kepala
atau rambut dari kotoran/debu atau mesin yang berputar. Topi ini biasanya
terbuat dari kain katun.
2.
Alat
Pelindung Mata
Alat
pelindung jenis ini digunakan untuk melindungi mata dari percikan bahan kimia
korosif, debu dan partikel-partikel kecil yang melayang di udara, gas atau uap
yang dapat menyebabkan iritasi mata, radiasi gelombang elektronik, panas
radiasi sinar matahari, pukulan atau benturan benda keras.
a)
Kacamata
(Spectacles)
Berfungsi untuk melindungi mata dari
partikel-partikel kecil, debu dan radiasi gelombang elektromagnetik.
b)
Goggle
Berfungsi untuk melindungi mata dari
gas, debu, uap dan percikan larutan bahan kimia. Goggle biasanya terbuat dari plastik transparan dengan lensa berlapis
kobalt untuk bahaya radiasi gelombang elektromagnetik mengion.
3.
Alat
Pelindung Telinga
Alat pelindung jenis ini digunakan untuk
mengurangi intensitas yang masuk kedalam telinga. Macam-macam alat pelindung
telinga, antara lain :
a)
Sumbat
Telinga (Ear Plug)
Ear plug dapat terbuat dari kapas, plastik,
karet alami dan bahan sintetis. Ear plug
yang terbuat dari kapas, spon malam (wax)
hanya dapat digunakan untuk sekali pakai (disposieble).
Sedangkan yang terbuat dari bahan dan plastik yang dicetak dapat digunakan
berulang kali.
b)
Tutup
Telinga (Ear Muff)
Alat pelindung jenis ini terdiri
dari 2 (dua) buah tutup telinga dan sebuah headband.
Isi dari tutup telinga ini berupa cairan atau busa yang berfungsi untuk
menyerap suara frekuensi tinggi. Pada pemakaian untuk waktu yang cukup lama,
efektivitas ear muff dapat menurun
karena bantalannya menjadi mengeras dan mengerut sebagai akibat reaksi dari
bantalan dengan minyak dan keringat pada permukaan kulit. Alat ini dapat
mengurangi intensitas suara 30 dB(A) dan juga dapat melindungi bagian luar
telinga dari benturan benda keras atau percikan bahan api. Faktor-faktor yang
mempengaruhi efektivitas alat pelindung telinga adalah :
1) Kebocoran udara
2) Peralatan gelombang suara melalui
bahan alat pelindung
3) Vibrasi alat itu sendiri
4) Konduksi suara melalui tulang dan
jaringan.
4.
Alat
Pelindung Pernafasan
Alat pelindung jenis ini digunakan
untuk melindungi pernafasan dari resiko paparan gas, uap, debu, atau udara
terkontaminasi atau beracun, korosi atau yang bersifat rangsangan. Sebelum
melakukan pemilhan terhadap suatu alat pelindung pernafasan yang tepat, maka
perlu mengetahui informasi tentang potensi bahaya atau kadar kontaminan yang
ada di lingkungan kerja. Hal-hal yang perlu diketahui antara lain :
a)
Bentuk
kontaminan di udara, apakah gas, uap, kabut, fume, debu atau kombinasi dari
berbagai kontaminan tersebut.
b)
Kadar
kontaminan di udara lingkungan kerja.
c)
Nilai
Ambang Batas (NAB) yang diperkenankan untuk masing-masing kontaminan.
d)
Reaksi
fisilogis terhadap pekerja, seperti dapat menyebabkan iritasi mata dan kulit.
e)
Kadar
oksigen di udara tempat kerja.
Secara umum, jenis alat pelindung
pernafasan yang banyak digunakan diperusahaan-perusahaan antara lain :
1)
Masker
Digunakan untuk mengurangi paparan debu
atau partikel-partikel yang lebih besar masuk ke dalam saluran pernafasan.
2)
Respirator
Digunakan untuk melindungi
pernafasan dari paparan debu, kabut, uap logam, asap dan gas-gas berbahaya.
Jenis-jenis respirator ini adalah :
- Chemical
Respirator
Merupakan
catridge respirator terkontaminasi gas dan uap dengan toksisitas rendah Catridge ini berisi adsorban
dan karbon aktif, arang dan silicagel. Sedangkan canister digunakan untuk
mengabsorbsi khlor dan gas atau uap zat organik.
- Mechanical
Respirator
Alat
pelindung ini berguna untuk menangkap partikel-partikel zat padat, debu, kabut,
uap logam dan asap. Respirator ini biasanya dilengkapi dengan filter yang
berfungsi untuk menangkap debu dan kabut dengan kadar kontaminasi udara tidak
terlalu tinggi atau partikel yang tidak terlalu kecil. Filter pada respirator
ini terbuat dari fiberglass atau wol
dan serat sintetis yang dilapisi dengan mesin untuk memberi muatan pada
partikel.
5.
Alat
Pelindung Tangan
Digunakan
untuk melindungi tangan dan bagian lainnya dari dari benda tajam atau goresan,
bahan kimia, benda panas dan dingin, kontak dengan arus listrik. Sarung tangan
terbuat dari karet untuk melindungi kontaminasi terhadap bahan kimia dan arus
listrik dan sarung tangan dari kain/katun untuk melindungi kontak dengan panas
dan dingin. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan sarung tangan
sebagai berikut :
a)
Potensi
bahaya yang ada di tempat kerja, apakah berupa bahan kimia korosif, benda
panas, dingin, tajam atau benda keras.
b)
Daya
tahan bahan terhadap bahan kimia, seperti sarung tangan karet alami tidak tepat
pada paparan pelarut organik, karena karet alami larut dalam pelarut organik.
c)
Kepekaan
objek yang digunakan, seperti pekerjan yang halus dengan memberikan benda-benda
halus lebih tepat menggunakan sarung tangan yang tipis.
d)
Bagian
tangan yang dilindungi, apakah hanya bagian jari saja, tangan, atau sampai
bagian lengan.
6.
Alat
Pelindung Kaki
Digunakan
untuk melindungi kaki dan bagian lainnya dari benda-benda keras, benda tajam,
logam/kaca, larutan kimia, benda panas, kontak dengan arus listrik. Menurut
jenis pekerjaan yang dilakukan sepatu keselamatan dibedakan menjadi :
a)
Sepatu
pengaman pada pengecoran baja
Sepatu ini terbuat dari bahan kulit
yang dilapisi krom atau asbes dan tingginya
sekitar 35 cm. Pada pemakaian sepatu ini, celana dimasukkan ke dalam sepatu
lalu dikencangkan dengan tali pengikat.
b)
Sepatu
pengaman pada pekerjaan yang mengandung bahaya peledakan
Sepatu ini
tidak boleh memakai paku-paku yang dapat menimbulkan percikan bunga api.
c)
Sepatu
pengaman untuk pekerjaan yang berhubungan dengan listrik
Sepatu ini
terbuat dari karet anti elektronik, tahan terhadap tegangan listrik sebesar
10.000 volt selama 3 menit.
d)
Sepatu
pengaman pada pekerjaan bangunan konsentrasi
Sepatu ini
terbuat dari bahan kulit yang dilengkapi dengan baja pada ujung depannya.
7.
Pakaian
Pelindung
Digunakan
untuk melindungi seluruh atau bagian tubuh dari percikan api, suhu panas atau
dingin, cairan bahan kimia. Pakaian pelindung dapat berbentuk apron yang
menutupi sebagian tubuh pemakainya yaitu mulai daerah dada sampai lulut atau overall yaitu menutupi suluruh bagian
tubuh. Apron dapat terbuat dari kain dril, kulit, plastik PVC/polyethyline, karet, asbes atau kain yang dilapisi alumunium.
Apron tidak boleh digunakan di tempat-tempat kerja dimana terdapat mesin-mesin
yang berputar.
8.
Sabuk
Pengaman Keselamatan
Digunakan
untuk melindungi tubuh dari kemungkinan terjatuh dari ketinggian, seperti
pekerjaan mendaki, memanjat dan pada pekerjaan kontruksi bangunan. Prinsip
pemeliharaan alat pelindung diri dapat dilakukan dengan cara :
a)
Penjemuran
di panas matahari untuk menghilangkan bau dan mencegah timbulnya jamur dan
bakteri.
b)
Pencucian
dengan air sabun untuk alat pelindung diri seperti safety helm, kacamata, ear
plug yang terbuat dari karet, sarung tangan kain/kulit/karet.
c)
Penggantian
catridge atau caniste rpada
respirator setelah dipakai beberapa kali.
Agar alat pelindung diri tetap dapat
digunakan secara baik, harus disimpan pada tempat penyimpanan yang bebas debu,
kotoran, dan tidak terlalu lembab serta terhindar dari gigitan binatang.
Penyimpanan harus diatur sedemikian rupa sehingga mudah diambil dan dijangkau
oleh pekerja dan diupayakan disimpan di lemari khusus pelindung alat pelindung
diri.
2.3.
Dermatitis Kontak
Dermatitis kontak ialah dermatitis
yang disebabkan oleh bahan/ substansi yang menempel pada kulit. Dikenal dua
macam dermatitis kontak, yaitu dermatitis kontak iritan dan dermatitis kontak
alergik, keduanya dapat bersifat akut maupun kronis (Djuanda, 2013).
2.3.1.Dermatitis Kontak Iritan
1. Definisi
Dermatitis
kontak iritan merupakan reaksi peradangan kulit nonimunologik, jadi kerusakan
kulit terjadi langsung tanpa didahului proses sensitisasi (Djuanda, 2013).
2.
Etiologi
Penyebab munculnya DKI adalah bahan
yang bersifat iritan, misalnya bahan pelarut, deterjen, minyak pelumas, asam,
alkali, dan serbuk kayu,. Kelainan kulit yang terjadi selain ditentukan oleh
ukuran molekul, daya larut, konsentrasi bahan tersebut, dan vehikulum, juga
dipengaruhi oleh faktor lain. Faktor yang dimaksud adalah lama kontak,
kekerapan (terus menerus atau berselang), adanya oklusi menyebabkan kulit lebih
pemeabel, demikian pula gesekan, dan trauma fisis, serta suhu dan kelembaban
lingkungan (Djuanda, 2013).
Faktor individu juga ikut
berpengaruh pada dermatitis kontak iritan, Misalnya perbedaan ketebalan kulit
di berbagai tempat menyebabkan perbedaan permeabilitas, usia (anak dibawah umur
8 tahun lebih mudah teriritasi), ras (kulit hitam lebih tahan daripada kulit
putih), jenis kelamin (insidens dermatitis kontak iritan lebih tinggi daripada
wanita), dan penyakit kulit yang pernah atau sedang dialami (ambang rangsang
terhadap bahan iritan turun), misalnya dermatitis atopik (Djuanda, 2013).
Sistem imun tubuh juga berpengaruh
pada terjadinya dermatitis ini. Pada orang-orang yang immunocompromised, baik yang diakibatkan oleh penyakit yang sedang
diderita, penggunaan obat-obatan, maupun karena kemoterapi, akan lebih mudah
untuk mengalami dermatitis kontak (Hogan, 2009).
3.
Epidemiologi
Dermatitis kontak iritan (DKI) dapat
diderita oleh semua orang dari berbagai golongan umur, ras dan jenis kelamin.
Jumlah penderita DKI diperkirakan cukup banyak terutama yang berhubungan dengan
pekerjaan (DKI akibat kerja), namun angkanya secara tepat sulit diketahui. Hal
ini disebabkan antara lain oleh banyaknya penderita dengan kelainan ringan
tidak datang berobat, atau bahkan tidak mengeluh (Djuanda, 2013).
Di Amerika, DKI sering terjadi pada
pekerjaan yang melibatkan kegiatan mencuci tangan atau paparan berulang pada
kulit terhadap air, bahan makanan atau iritan lainnya. Pekerjaan yang berisiko
tinggi meliputi pembatu rumah tangga, pelayan rumah sakit, tukang masak, dan
penata rambut. Prevalensi dermatitis tangan karena pekerjaan ditemukan sebesar
55,6% di intensive care unit dan
69,7% pada pekerja yang sering terpapar (dilaporkan dengan frekuensi mencuci
tangan >35 kali setiap pergantian). Penelitian menyebutkan frekuensi mencuci
tangan >35 kali setiap pergantian memiliki hubungan kuat dengan dermatitis
tangan karena pekerjaan (odds ratio 4,13%)
(Hogan, 2009).
Di Jerman, angka insiden DKI adalah
4,5 setiap 10.000 pekerja, dimana insiden tertinggi ditemukan pada penata
rambut (46,9 kasus per 10.000 pekerja setiap
tahunnya), tukang roti dan tukang masak (Hogan, 2009). Berdasarkan jenis
kelamin, DKI secara signifikan lebih banyak pada perempuan dibanding laki-laki.
Tingginya frekuensi ekzem tangan pada wanita dibanding pria karena faktor
lingkungan, bukan genetik (Hogan, 2009).
4.
Patogenesis
Kelainan kulit timbul akibat
kerusakan sel yang disebabkan oleh bahan iritan melalui kerja kimiawi atau
fisis. Bahan iritan merusak lapisan tanduk, denaturasi keratin, menyingkirkan
lemak lapisan tanduk dan mengubah daya ikat air kulit. Kebanyak bahan iritan
(toksin) merusak membran lemak keratinosit tetapi sebagian dapat menembus
membran sel danmerusak lisosom, mitokondria atau komplemen inti (Djuanda, 2013).
Kerusakan membran mengaktifkan
fosfolipase dan melepaskan asam arakidonat (AA), diasilgliserida (DAG), faktor
aktivasi platelet, dan inositida (IP3). AA dirubah menjadi prostaglandin (PG)
dan leukotrien (LT). PG dan LT menginduksi vasodilatasi, dan meningkatkan
permeabilitas vaskuler sehingga mempermudah transudasi komplemen dan kinin. PG
dan LT juga bertindak sebagai kemotraktan kuat untuk limfosit dan neutrofil,
serta mengaktifasi sel mast melepaskan histamin, LT dan PG lain, dan PAF,
sehingga memperkuat perubahan Vaskuler (Djuanda, 2013).
DAG dan second messenger lain menstimulasi ekspresi gen dan sintesis
protein, misalnya interleukin-1 (IL-1) dan granulocyte
macrophage-colony stimulating
factor (GM-CSF). IL-1 mengaktifkan sel T-helper
mengeluarkan IL-2 dan mengekspresi reseptor IL-2 yang menimbulkan stimulasi
autokrin dan proliferasi sel tersebut. Keratinosit juga mengakibatkan molekul
permukaan HLA-DR dan adesi intrasel (ICAM-1). Pada kontak dengan iritan,
keratinosit juga melepaskan TNF-α, suatu sitokin proinflamasi yang dapat
mengaktifasi sel T, makrofag dan granulosit, menginduksi ekspresi molekul adesi
sel dan pelepasan sitokin (Djuanda, 2013).
Deretan kejadian tersebut
menimbulkan gejala peradangan klasik di tempat terjadinya kontak di kulit
berupa eritema, edema, panas, dan nyeri, bila iritan kuat. Sedangkan iritan
lemah akan menimbulkan kelainan kulit setelah berulang kali kontak, dimulai
dengan kerusakan stratum korneum oleh karena delipidasi yang menyebabkan desikasi
dan kehilangan fungsi sawarnya, sehingga mempermudah kerusakan sel dibawahnya
oleh iritan (Djuanda, 2013).
5.
Gejala
Klinis
Gejala klinis dermatitis iritan
dibedakan atas dermatitis kontak iritan akut dan dermatitis iritan kronik.
a)
Dermatitis
kontak iritan akut
Luka
bakar oleh bahan kimia juga termasuk dermatitis kontak iritan akut. Penyebab
dermatitis kontak iritan akut adalah iritan kuat, misalnya larutan asam sulfat
dan asam hidroklorid atau basa kuat, misalnya natrium dan kalium hidroksida.
Biasanya terjadi karena kecelakaan, dan reaksi segera timbul. Intensitas reaksi
sebanding dengan konsentrasi dan lamanya kontak dengan iritan, terbatas pada
tempat kontak kulit teras pedih, panas, rasa terbakar, kelainan yang terlihat
berupa eritema, edema, bula, mungkin juga nekrosis. Pinggir kelainan kulit
berbatas tegas, dan pada umumnya asimetris (Djuanda, 2013).
b)
Dermatitis
kontak iritan kronis
DKI
kronis disebabkan oleh kontak dengan iritan lemah (faktor fisis, misalnya
gesekan, trauma mikro, kelembaban rendah, panas atau dingin) yang
berulang-ulang, dan mungkin bisa terjadi oleh karena kerjasama berbagai macam
faktor. Bisa jadi suatu bahan secara sendiri tidak cukup kuat menyebabkan
dermatitis iritan, tetapi baru mampu bila bergabung dengan faktor lain.
Kelainan baru nyata setelah berhari-hari, berminggu-minggu atau bulan, bahkan
bisa bertahun-tahun. Sehingga waktu dan deretan kontak merupakan faktor paling
penting (Djuanda, 2013).
Gejala
klasik berupa kulit kering, eritema, skuama, lambat laun kulit tebal (hiperkeratosis) dan terjadi likenifikasi,
batas kelainan tidak tegas. Bila kontak terus berlangsung maka dapat
menimbulkan retak kulit yang disebut fisura. Misalnya pada kulit tumit tukang
cuci yang mengalami kontak terus menerus dengan deterjen. Keluhan penderita
umumnya rasa gatal atau nyeri karena kulit retak (fisur) (Djuanda, 2013).
Ada kalanya kelainan hanya berupa
kulit kering dan skuama tanpa eritema, sehingga diabaikan oleh penderita.
Setelah kelainan dirasakan mengganggu, baru mendapat perhatian. Dermatitis
kontak iritan kronis sering berhubungan dengan pekerjaan, oleh karena itu lebih
banyak ditemukan di tangan dibandingkan dengan dibagian lain tubuh. Contoh
pekerjaan yang berisiko tinggi untuk dermatitis kontak iritan kronis, yaitu :
tukang cuci, kuli bangunan, montir di bengkel, juru masak, tukang kebun, dan
peñata rambut (Djuanda, 2013).
6.
Pengobatan
Upaya pengobatan DKI yang terpenting
adalah menghindari pajanan bahan iritan, baik yang bersifat mekanik, fisis atau
kimiawi serta menyingkirkan faktor yang memperberat. Bila dapat dilakukan
dengan sempurna dan tanpa komplikasi, maka tidak perlu pengobatan topikal dan
cukup dengan pelembab untuk memperbaiki kulit yang kering (Djuanda, 2013).
Apabila diperlukan untuk mengatasi peradangan dapat
diberikan kortikosteroid topikal, misalnya hidrokortison, atau untuk kelainan
yang kronis dapat diawali dengan kortikosteroid yang lebih kuat. Pemakaian alat
perlindungan diri yang adekuat diperlukan bagi mereka yang bekerja dengan bahan
iritan, sebagai salah satu upaya pencegahan (Djuanda, 2013).
2.3.2.Dermatitis Kontak Alergi
1. Definisi
Dermatitis
kontak alergi adalah dermatitis kontak yang terjadi pada seseorang yang telah
mengalami sensitisasi terhadap suatu allergen (Djuanda, 2013).
2.
Etiologi
Penyebab
dermatitis kontak alergik adalah alergen, paling sering berupa bahan kimia sederhana
dengan berat molekul umumnya rendah (<1000 Dalton), merupakan alergen yang
belum diproses, disebut hapten, bersifat lipofilik, sangat reaktif, dapat
menembus stratum komeum sehingga mencapai sel epidermis dibawahnya (sel hidup).
Berbagai faktor berpengaruh terhadap terjadinya dermatitis kontak alergik,
misalnya potensi sensitisasi alergen, dosis per unit area, luas daerah yang
terkena, lama pajanan, oklusi, suhu, dan kelembaban lingkungan, vehikulum dan
pH, serta faktor individu, misalnya kondisi kulit pada lokasi kontak (keadaan
stratum komeum), dan status imunologik ( misalnya sedang menderita sakit,
terpajan sinar matahari) (Djuanda, 2013).
3.
Epidemiologi
Bila
dibandingkan dengan dermatitis kontak iritan, jumlah penderita dermatitis
kontak alergik lebih sedikit, karena hanya mengenai orang yang kulitnya sangat
peka (hipersensitif). Diramalkan bahwa jumlah dermatitis kontak (iritan dan
alergik) makin bertambah seiring dengan bertambahnya jumlah produk yang
mengandung bahan kimia yang dipakai oleh masyarakat. Namun informasi mengenai
prevalensi dan insidens dermatitis kontak alergik di masyarakat sangat sedikit,
sehingga berapa angka yang mendekati kebenaran belum didapat (Djuanda, 2013).
Dahulu
diperkirakan bahwa kejadian dermatitis kontak iritan akibat kerja sebanyak 80%
dan dermatitis kontak alergik sebanyak 20%, tetapi data baru dari Inggris dan
Amerika Serikat menunjukkan bahwa dermatitis kontak akibat kerja akibat alergi
ternyata cukup tinggi, yaitu berkisar antara 50%-60%. Sedangkan dari satu
penelitian ditemukan frekuensi dermatitis kontak alergik bukan akibat kerja
tiga kali lebih sering daripada dermatitis kontak alergik akibat kerja
(Djuanda, 2013).
4.
Patogenesis
Mekanisme
terjadinya kelainan kulit pada dermatitis kontak alergi adalah mengikuti
respons imun yang diperantarai oleh sel (cell-mediated
immune respons) atau reaksi hipersensitivitas tipe IV. Reaksi
hipersensitivitas di kulit timbul secara lambat (delayed hypersensitivity), umumnya dalam waktu 24 jam setelah
terpajan dengan alergen. Reaksi ini terjadi melalui dua fase, yaitu fase
sensitisasi dan fase elisitasi. Hanya individu yang telah mengalami sensitisasi
dapat menderita dermatitis kontak alergik (Djuanda, 2013).
a)
Fase
sensitisasi
Hapten
yang masuk ke dalam epidermis melewati stratum korneum akan ditangkap oleh sel
Langerhans dengan cara pinositosis, dan diproses secara kimiawi oleh enzim
lisosom atau sitosol serta dikonjugasikan pada molekul HLA-DR menjadi antigen
lengkap. Pada awalnya sel Langerhans dalam keadaan istirahat, dan hanya
berfungsi sebagai makrofag dengan sedikit kemampuan menstimulasi sel T. Tetapi,
setelah keratinosit terpajan oleh hapten yang juga mempunyai sifat iritan, akan
melepaskan sitokin (IL-1) yang akan mengaktifkan sel Langerhans, sehingga mampu
menstimulasi sel-T. Aktivasi tersebut akan mengubah fenotip sel Langerhans, dan
meningkatkan sekresi sitokin tertentu. (misalnya IL-1) serta ekspresi molekul
permukaan sel termasuk MHC kelas I dan II, ICAM-1, LFA-3 dan B7. Sitokin
proinflamasi lain yang dilepaskan oleh keratinosit, yaitu TNFα, yang dapat
mengaktivasi sel-T, makrofag dan granulosit, menginduksi perubahan molekul
adesi sel dan pelepasan sitokin juga meningkatkan MHC kelas I dan II (Djuanda,
2013).
TNFα
menekan produksi E-cadherin yang
mengikat sel Langerhans pada epidermis, juga menginduksi aktivitas
gelatinolisis sehingga memperlancar sel langerhans melewati membran basalis
bermigrasi ke kelenjar getah bening setempat melalui saluran limfe. Di dalam
kelenjar limfe, sel Langerhans mempersentasikan kompleks HLA-DR-antigen kepada
sel-T penolong spesifik., yaitu yang mengekspresikan molekul CD4 yang mengenali
HLA-DR sel Langerhans, dan kompleks reseptor sel-T-CD3 yang mengenali antigen
yang telah diproses. Ada atau tidak adanya sel-T spesifik ini ditentukan secara
genetik (Djuanda, 2013).
Sel
Langerhans mensekresi IL-1 yang menstimulasi sel-T untuk mensekresi IL-2 dan
mengekspresi reseptor-IL-2 (IL-2R). Sitokin ini akan menstimulasi proliferasi
sel-T spesifik, sehingga menjadi lebih banyak. Turunan sel-T memori (sel-T
teraktivasi) akan meninggalkan kelenjar getah bening dan beredar ke seluruh
tubuh. pada saat tersebut individu menjadi tersensitisasi. Fase ini rata-rata
berlangsung selama 2-3 minggu (Djuanda, 2013).
b)
Fase
elisitasi
Fase
kedua (elisitasi) hipersensitivitas tipe lambat terjadi pada pajanan ulang
alergen (hapten). Seperti pada fase sensitisasi, hapten akan ditangkap oleh sel
Langerhans dan diproses secara kimiawi menjadi antigen, diikat oleh HLA-DR,
kemudian diekspresikan di permukaan sel. Selanjutnya kompleks HLA-DR-antigen
ankan dipresentasikan kepada sel-T yang telah tersensitisasi (sel-T memori)
baik di kulit maupun di kelenjar limfe sehingga terjadi proses aktivasi. Di
kulit proses aktivasi lebih kompleks dengan hadirnya sel-sel lain. Sel
Langerhans mensekresi IL-1 yang menstimulasi sel-T untuk memproduksi IL-2 dan
mengekspresikan IL-2R, yang akan menyebabkan proliferasi dan ekspansi populasi
sel-T di kulit. Sel-T teraktivasi juga mengeluarkan IFN-Y yang akan
mengaktifkan keratinosit mengekspresikan ICAM-1 dan HLA-DR. Adanya ICAM-1
memungkinkan keratinosit untuk berinteraksi dengan sel-T dan leukosit yang lain
yang mengekspresikan molekul LFA-1. Sedangkan, HLA-DR memungkinkan keratinosit
untuk berinterksi langsung dengan sel-T CD4+, dan juga memungkinkan presentasi
antigen kepada sel tersebut. HLA-DR juga dapat merupakan target sel-T
sitotoksik pada keratinosit (Djuanda, 2013).
Keratinosit
menghasilkan juga sejumlah sitokin antara lain IL-1, IL-6, TNFα, GMCSF,
semuanya dapat mengaktivasi sel-T. IL-1 dapat menstimulasi keratinosit
menghasilkan eikosanoid. Sitokin dan eikosanoid ini akan mengaktifkan sel mas
dan makrofag. Sel mas yang berada dekat pembuluh darah dermis akan melepaskan
antara lain histamine, berbagai jenis faktor kemotaktik, PGE2 dan PGD2, dan
leukotrien B4 (LTB4). Eikosanoid baik yang berasal dari sel mas (prostaglandin)
maupun dari keratinosit atau leukosit menyebabkan dilatasi vaskuler dan
meningkatkan permeabilitas sehingga molekul larut seperti komplemen dan kinin
mudah berdifusi ke dalam dermis dan epidermis (Djuanda, 2013).
Selain
itu, faktor kemotaktik dan eikosanoid akan menarik neutrofil, monosit dan sel
darah lain dalam pembuluh darah masuk ke dalam dermis. Rentetan kejadian
tersebut akan menimbulkan respons klinik dermatitis kontak alergik. Fase
elisitasi umumnya berlangsung antara 24-48 jam (Djuanda, 2013).
5.
Gejala
Klinis
Penderita pada umumnya mengeluh gatal. Kelainan kulit
bergantung pada keparahan dermatitis. Pada yang akut dimulai dengan bercak
eritema berbatas jelas, kemudian diikuti edema, papulovesikel, vesikel atau
bula. Vesikel atau bula dapat pecah menimbulkan erosi dan eksudasi (basah)
(Djuanda, 2013).
Pada
penderita yang kronis terlihat kulit kering, berskuama, papul, likenifikasi dan
mungkin juga fisur, batasnya tidak jelas. Kelainan ini sulit dibedakan dengan dermatitis
kontak iritan kronis karena kemungkinan penyebabnya juga campuran (Djuanda, 2013).
6.
Pengobatan
Kortikosteoroid dapat diberikan
dalam jangka pendek untuk mengatasi peradangan pada dermatitis kontak alergi
akut yang ditandai dengan eritema, ede ma, bula atau vesikel, serta eksudatif.
Umumnya kelainan kulit akan mereda setelah beberapa hari. Kelainan kulitnya
cukup dikompres dengan larutan garam faal.Untuk dermatitis kontak alergik yang
ringan, atau dermatitis akut yang telah mereda (setelah mendapat pengobatan
kortikosteroid sistemik), cukup diberikan kortikosteroid topikal (Djuanda, 2013).
2.4.
Hubungan Personal Hygiene serta Alat Pelindung Diri (APD) dengan Terjadinya
Dermatitis Kontak pada Pemulung
Kebersihan
merupakan hal yang sangat penting dan harus diperhatikan, karena kebersihan
juga mempengaruhi kesehatan dan psikis seseorang. Kebersihan itu sendiri sangat
dipengaruhi oleh nilai individu dan kebiasaan. Pemenuhan personal hygiene diperlukan
untuk kenyamanan individu, keamanan, dan kesehatan. Praktik personal hygiene
bertujuan untuk peningkatan kesehatan dimana kulit merupakan garis tubuh
pertama dari pertahanan melawan infeksi (Potter & Perry, 2006).
Perlindungan
tenaga kerja melalui usaha-usaha teknis pengamanan tempat, peralatan dan
lingkungan kerja adalah sangat perlu di utamakan. Namun, kadang-kadang risiko
bahaya ditempat kerja masih belum dapat dikendalikan sepenuhnya, sehingga
digunakan alat - alat pelindung diri (Tarwaka, 2008).
Dilihat
dari sudut pandang kesehatan, risiko bahaya sebagai pemulung
tentunya sangat besar sekali, karena sampah tentunya mengandung banyak sekali
bakteri-bakteri patogen akibat pembusukan zat-zat organik yang bisa masuk ke
tubuh melalui pori–pori, kulit dan pernafasan. Jika komponen zat berbahaya pada
barang bekas tersebut masuk ke tubuh, maka akan menyebabkan berbagai macam
penyakit (Triyanto, 2009). Tingginya risiko terkena dermatitis kontak pada
pemulung dapat dicegah dengan menjaga kebersihan diri dan penggunaan alat
pelindung diri pada saat bekerja mengais sampah. Dengan adanya prilaku Hygiene, seperti halnya mencuci tangan
sebelum makan, selalu mengganti pakaian kerja, dan lain-lain, maka pemulung
akan dapat meminimalkan risiko terkena penyakit dermatitis kontak. Begitu juga
halnya dengan penggunaan alat pelindung diri, seperti sarung tangan karet, dan
sepatu boot. Perlindungan tangan dan kaki untuk pemulung sangat penting agar risiko
terjadinya penyakit dermatitis kontak dapat diminimalisir.
Berdasarkan
hasil penelitian Budiono dan Cahyawati (2011), mengenai kejadian dermatitis
pada nelayan dapat disimpulkan bahwa ada faktor-faktor yang berhubungan
meliputi masa kerja, alat pelindung diri, riwayat pekerjaan, hygiene personal,
riwayat penyakit kulit, dan riwayat alergi dengan kejadian dermatitis pada
nelayan. kemudian hasil penelitian Listautin (2012), tentang keluhan kesehatan
salah satunya keluhan gangguan kulit pada pemulung menunjukkan ada hubungan
paparan terhadap cahaya matahari, zat kimia hidrogen sulfida, jam kerja,
kebersihan kulit, kebersihan tangan, kuku dan kaki, dan alat pelindung diri,
dengan keluhan gangguan kulit.
No comments:
Post a Comment